Rabu, 14 Maret 2012

Kehidupan


Mengenal sedikit tentang arti hidup.
Kehidupan di kereta ekonomi.
Aku mulai  belajar mengenal arti hidup lewat kehidupan di kereta api ekonomi ini. ada alasan tersendiri mengapa aku memulai perjalanan mengenal arti hidup dari sini.
Kalian lihat ketika orang-orang berjajar menanti kedatangan kereta mereka, mungkin saja mereka berharap ,”ayolah, segera datang.. agar aku bisa segera sampai di rumah”.
Ting, ting ting ting,.. ting ting ting tong,.. “dari arah utara akan segera datang kereta api rapih doho jurusan blitar kewat kertosono bagi penumpang di mohon segera bersiap-siap, jangan sampai ada barang yang tertinggal”. Tak lama kemudian kereta itu pun datang, mereka berbondong-bondong menaiki kereta, uyel-uyelan, trabas sana-trabas sini. Bismillahirohmanirrohim, semoga selamat sampai tujuan. Dari sinilah kehidupan di kereta ekonomi dimulaiJ
Bukankah perjalanan ini sungguh indah?? Banyak hal yang menggelitik di sana. Diantaranya adalah,

1.     **Tragedi usir mengusir
Sudah tau kan kalau sekarang tiket kereta api itu bernomor, dan kamu harus duduk sesuai nomor tiket yang kamu bawa. dan tak jarang lho penumpang kereta api ribut, cek cok, Cuma gara-gara masalah tempat duduk. Yang di usir lah, yang mengusir lah...hmmmmm  ini tontonan menarik bagi saya yang masih termasuk  baru jadi penumpang kereta. Pernah suatu ketika ada ibu-ibu paruh baya yang duduk di sebelah saya mengeluh masalah tempat duduk tersebut ,” lha gimana to mbag, saya itu kerja di pabrik pulangnya mesti sore. Jadi belinya tiket ya sore itu, dan saya tidak pernah dapat tempat duduk padahal saya langganan lho, tiap hari pulang pakai rapih doho, mesti kena usir.”  Aduh, kalo gini ceritanya gimana solusinya saya juga bingung jadinya. Lalu saya balik tanya,” lha kok mboten tumbas pas pagi mawon buk?” ,” ya ndag bisa mbag, pagi saya naik bus langsung ke tempat kerja. Ya ndag papa berdiri pokoknya bisa sampai rumah.” Dari sedikit percakapan tersebut bisa diambil nilai kehidupan, bahwa dibutuhkan sikap rela dalam menjalani kehidupan ini. ibu tersebut rela berdiri, ikhlas diusir, mungkin yang ada di pikirannya,”cepatlah sampai rumah, agar aku bisa segera bertemu anak-anakku dan suamiku.” subhanallah sebuah harapan yang harus diiringi keikhlasan. Dan inilah yang selalu menguatkan.
Ada lagi cerita, cerita sebuah keikhlasan..dan tentunya ini yang hauksnya dicontoh. Suatu hari ketika saya naik kereta api untuk pulang ke kampung halaman saya, seperti biasa kereta lekonomi ini selalu ramai, entah penumpang entah pedagang, pokoknya kereta ini tak pernah sepi tiap saya pulang kampung. Seorang bapak-bapak paruh baya , sebut saja berumuran 45 tahunan rela memberikan tempat duduknya pada ibu-ibu yang sedang menggendong anak dan kesulitan membawa barang. Nah ini luar biasa... jarang lo ada orang yang rela memberikan tempat duduknya, justu biasanya orang-orang itu mementingkan dirinya sendiri, tak peduli karcisnya berstempel berdiri.. tetap aja duduk di tempat duduk orang. Tapi kali itu, subhanallah bapak itu sungguh mulia bukan.. coba kalau saya yang ada diposisi bapak tertsebut, apa saya juga mau ikhlas memberikan tempat duduk saya untuk ibu tadi?? Hmmmmm,.. gimana ya? Eng-ing-eng.......>,<


2.    ***   Para pedagang
Pernahkah terpikir?? Perjuangan para pedagang dalam kereta api ini?? berpindah dari stasiun ke stasiun, berjalan dari gerbong ke gerbong sambil menenteng barang dagangannya, teriak-teriak menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang sering cuek atas penawaran mereka, belum lagi kalau kereta sedang penuh,,mereka harus ikut berdusel-duselan, tapi pejuangan mereka tak setara dengan hasil yang mereka dapatkan. Pernah denger ini kan??
[beri...berii..beriii]  à maksudnya stroberi.
[akua, mizon,le.ale]
[krupuk pedes’e dua ribuan..]
[tuk pisang..anget-anget]
[nde..onde mang atus an]
[kacang-kacang sewuan]
[permen’e..sewuan]
[tahu sumedang rong ewuan yoo]
[pecel..pecell mbag?]
[tisu-tisu ]
[nasi kuning tiga ribuan]
[degan-es-degan]
Pernahkah terpikir,, lewat kata-kata tersebut mereka mencari nafkah, untuk keluaga mereka, untuk anak-anak mereka yang menentikannya pulang.
Seandainya mereka mau mengeluh, entah berapa kata keluhan yang akan terlontar, tapi kulihat... tatap wajah mereka selalu ikhlas. Meski kadang tak ada satu pun orang membeli dagangan mereka, meski kadang mereka tak dihiraukan saat menewarkan dagangan, meski kadang ada yang tidak senang karena mereka bolak-balik lewat gerbong satu ke gerbong lain,tapi inilah perjuanganJ. Pernah juga saya berpikir, gimana ya rasanya pedagang tersebut ketika barang dagangannya tak laku, sementara dagangan milik temannya laris terjual. Adakah rasa iri? Seperti ketika kita iri saat melihat nilai kita dibawah nilai teman kita. (kita?? Maksudnya saya).
Tapi nyatanya tidak, yang saya lihat para pedagang di kereta api ekonomi rappih doho itu.. lucu-lucu. Disaat terjadi kompetisi mencari pembeli dalam kereta, mereka malah sering guyonan dengan pesaing meraka sendiri. Bahkan kemarin itu pernah pedagang krupuk “ngutang” es ale-ale sama penjual minuman. Dan mereka semua itu akrab, mungkin sudah menganggap diri mereka adalah keluarga. Hmmmm.. tapi kesan yang demikian itu tidak berlaku untuk semua pedagang pastinya. Ini cukup membuat saya mengerti bahwa berkompetisi itu tak mesti harus bermusuhan, tak mesti harus lebih unggul daripada yang lain. Tapi berkompetisi itu adalah menjalin persahabatan dengan pesaing kita agar tercipta persaingan atau kompetisi yang sehat. Itulah mereka, Wajah-wajah ikhlas yang mewarnai kehidupan kereta ekonomi.

3.     ****  Pengamen
Ini yang paling saya suka,.. menurut saya kalau dalam kereta api tidak ada orang mengamen itu nggak asik deh, gag berwarna. Dengan musik yang mereka nyanyikan.. mungkin sebagian penumpang yang jenuh jadi tambah semangat. Hmmmm.... saya suka sebagian besar suara mereka bagus juga kok. Jujur,.. saya pengen lo ikut mereka ngamen gitu..pindah dari kereta ke kereta lain sambil bawa kentrung(gitar kecil), galon sama ecek-ecek. Ayoo dong siapa yang mau nemeni saya?? Hhehehehe#ngawuurr# tapi jujur, emang pengen kok:D

Selanjutnya masih ada lagi cerita di kereta rapih doho, namun berhubung saya masih banyak tugas kuliah cukup ngerii, jadi sementara ini dulu ya....:)



2 komentar:

  1. Apakah sering bertemu lelaki tua buta yang mengamen dg membaca syair doannya? dan dia selalu ditemani istrinya. Kemudian seringkah bertemu dengan para anak2 kecil yang mengamen sebagai penyapu gerbong2 kreta??

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bukan sering lagi, tiapbalik ke surabaya mesti ketemu bapak itu.. hmmm, Subhanallah ya mereka..

      Hapus