Mengenal sedikit tentang arti
hidup.
Kehidupan di kereta ekonomi.
Aku mulai belajar mengenal arti hidup lewat kehidupan
di kereta api ekonomi ini. ada alasan tersendiri mengapa aku memulai perjalanan
mengenal arti hidup dari sini.
Kalian lihat ketika orang-orang
berjajar menanti kedatangan kereta mereka, mungkin saja mereka berharap
,”ayolah, segera datang.. agar aku bisa segera sampai di rumah”.
Ting, ting ting ting,.. ting ting
ting tong,.. “dari arah utara akan segera datang kereta api rapih doho jurusan
blitar kewat kertosono bagi penumpang di mohon segera bersiap-siap, jangan
sampai ada barang yang tertinggal”. Tak lama kemudian kereta itu pun datang,
mereka berbondong-bondong menaiki kereta, uyel-uyelan, trabas sana-trabas sini.
Bismillahirohmanirrohim, semoga selamat sampai tujuan. Dari sinilah kehidupan
di kereta ekonomi dimulaiJ
Bukankah perjalanan ini sungguh
indah?? Banyak hal yang menggelitik di sana. Diantaranya adalah,
1. **Tragedi
usir mengusir
Sudah tau kan
kalau sekarang tiket kereta api itu bernomor, dan kamu harus duduk sesuai nomor
tiket yang kamu bawa. dan tak jarang lho penumpang kereta api ribut, cek cok,
Cuma gara-gara masalah tempat duduk. Yang di usir lah, yang mengusir lah...hmmmmm ini tontonan menarik bagi saya yang masih termasuk
baru jadi penumpang kereta. Pernah suatu
ketika ada ibu-ibu paruh baya yang duduk di sebelah saya mengeluh masalah
tempat duduk tersebut ,” lha gimana to mbag, saya itu kerja di pabrik pulangnya
mesti sore. Jadi belinya tiket ya sore itu, dan saya tidak pernah dapat tempat
duduk padahal saya langganan lho, tiap hari pulang pakai rapih doho, mesti kena
usir.” Aduh, kalo gini ceritanya gimana
solusinya saya juga bingung jadinya. Lalu saya balik tanya,” lha kok mboten tumbas
pas pagi mawon buk?” ,” ya ndag bisa mbag, pagi saya naik bus langsung ke
tempat kerja. Ya ndag papa berdiri pokoknya bisa sampai rumah.” Dari sedikit
percakapan tersebut bisa diambil nilai kehidupan, bahwa dibutuhkan sikap rela
dalam menjalani kehidupan ini. ibu tersebut rela berdiri, ikhlas diusir,
mungkin yang ada di pikirannya,”cepatlah sampai rumah, agar aku bisa segera
bertemu anak-anakku dan suamiku.” subhanallah sebuah harapan yang harus
diiringi keikhlasan. Dan inilah yang selalu menguatkan.
Ada lagi cerita,
cerita sebuah keikhlasan..dan tentunya ini yang hauksnya dicontoh. Suatu hari
ketika saya naik kereta api untuk pulang ke kampung halaman saya, seperti biasa
kereta lekonomi ini selalu ramai, entah penumpang entah pedagang, pokoknya
kereta ini tak pernah sepi tiap saya pulang kampung. Seorang bapak-bapak paruh
baya , sebut saja berumuran 45 tahunan rela memberikan tempat duduknya pada
ibu-ibu yang sedang menggendong anak dan kesulitan membawa barang. Nah ini luar
biasa... jarang lo ada orang yang rela memberikan tempat duduknya, justu
biasanya orang-orang itu mementingkan dirinya sendiri, tak peduli karcisnya
berstempel berdiri.. tetap aja duduk di tempat duduk orang. Tapi kali itu,
subhanallah bapak itu sungguh mulia bukan.. coba kalau saya yang ada diposisi
bapak tertsebut, apa saya juga mau ikhlas memberikan tempat duduk saya untuk
ibu tadi?? Hmmmmm,.. gimana ya? Eng-ing-eng.......>,<
2. *** Para
pedagang
Pernahkah
terpikir?? Perjuangan para pedagang dalam kereta api ini?? berpindah dari
stasiun ke stasiun, berjalan dari gerbong ke gerbong sambil menenteng barang
dagangannya, teriak-teriak menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang
sering cuek atas penawaran mereka, belum lagi kalau kereta sedang penuh,,mereka
harus ikut berdusel-duselan, tapi pejuangan mereka tak setara dengan hasil yang
mereka dapatkan. Pernah denger ini kan??
[beri...berii..beriii] à
maksudnya stroberi.
[akua,
mizon,le.ale]
[krupuk pedes’e
dua ribuan..]
[tuk
pisang..anget-anget]
[nde..onde mang
atus an]
[kacang-kacang
sewuan]
[permen’e..sewuan]
[tahu sumedang
rong ewuan yoo]
[pecel..pecell
mbag?]
[tisu-tisu ]
[nasi kuning
tiga ribuan]
[degan-es-degan]
Pernahkah
terpikir,, lewat kata-kata tersebut mereka mencari nafkah, untuk keluaga
mereka, untuk anak-anak mereka yang menentikannya pulang.
Seandainya
mereka mau mengeluh, entah berapa kata keluhan yang akan terlontar, tapi
kulihat... tatap wajah mereka selalu ikhlas. Meski kadang tak ada satu pun
orang membeli dagangan mereka, meski kadang mereka tak dihiraukan saat
menewarkan dagangan, meski kadang ada yang tidak senang karena mereka
bolak-balik lewat gerbong satu ke gerbong lain,tapi inilah perjuanganJ. Pernah juga saya
berpikir, gimana ya rasanya pedagang tersebut ketika barang dagangannya tak
laku, sementara dagangan milik temannya laris terjual. Adakah rasa iri? Seperti
ketika kita iri saat melihat nilai kita dibawah nilai teman kita. (kita??
Maksudnya saya).
Tapi nyatanya
tidak, yang saya lihat para pedagang di kereta api ekonomi rappih doho itu..
lucu-lucu. Disaat terjadi kompetisi mencari pembeli dalam kereta, mereka malah
sering guyonan dengan pesaing meraka sendiri. Bahkan kemarin itu pernah
pedagang krupuk “ngutang” es ale-ale sama penjual minuman. Dan mereka semua itu
akrab, mungkin sudah menganggap diri mereka adalah keluarga. Hmmmm.. tapi kesan
yang demikian itu tidak berlaku untuk semua pedagang pastinya. Ini cukup
membuat saya mengerti bahwa berkompetisi itu tak mesti harus bermusuhan, tak
mesti harus lebih unggul daripada yang lain. Tapi berkompetisi itu adalah
menjalin persahabatan dengan pesaing kita agar tercipta persaingan atau
kompetisi yang sehat. Itulah mereka, Wajah-wajah ikhlas yang mewarnai kehidupan
kereta ekonomi.
3. **** Pengamen
Ini yang paling
saya suka,.. menurut saya kalau dalam kereta api tidak ada orang mengamen itu
nggak asik deh, gag berwarna. Dengan musik yang mereka nyanyikan.. mungkin
sebagian penumpang yang jenuh jadi tambah semangat. Hmmmm.... saya suka sebagian
besar suara mereka bagus juga kok. Jujur,.. saya pengen lo ikut mereka ngamen
gitu..pindah dari kereta ke kereta lain sambil bawa kentrung(gitar kecil),
galon sama ecek-ecek. Ayoo dong siapa yang mau nemeni saya??
Hhehehehe#ngawuurr# tapi jujur, emang pengen kok:D
Selanjutnya
masih ada lagi cerita di kereta rapih doho, namun berhubung saya masih banyak
tugas kuliah cukup ngerii, jadi sementara ini dulu ya....:)

Apakah sering bertemu lelaki tua buta yang mengamen dg membaca syair doannya? dan dia selalu ditemani istrinya. Kemudian seringkah bertemu dengan para anak2 kecil yang mengamen sebagai penyapu gerbong2 kreta??
BalasHapusiya bukan sering lagi, tiapbalik ke surabaya mesti ketemu bapak itu.. hmmm, Subhanallah ya mereka..
Hapus