Hujan kala itu,
Kata orang hujan itu berkah, iya memang J. Berkah yang sengaja
dikirim untuk bumi. Tetesan airnya yang memberi kehidupan, memberi kesegaran
dikala dahaga, memberi rasa damai dikala gelisah, memberi kebahagiaan
tersendiri bagi saya.
Hujan, bolehkah saya memegang percikan airmu?
Ingin sekali rasanya memegang percikan airmu, namun ia
selalu saja bisa lolos dari genggaman saya. Merasakan setiap tetes yang
mengenai kulit, jatuh tepat di wajah, eemmmh rintik-rintik itu begitu
menggelikan.
Memaksaku untuk tersenyum ketika tetes airnya mengenai
wajahku. Sadarkah? Inilah berkah, inilah nikmat yang harus disyukuri.
Hari itu, satu per satu tetesan airnya bergantian menyapa
wajahku, kemudian aku menengadahkan wajahku kesana, ke arah dimana ia datang.
Tik, tik, tik, seakan ia berebut membasahi wajah ini. Subhanallah, nikmat hujan
ini begitu mendamaikan hati.
Setiap hujan, adalah cerita. Cerita akan akan masa kecil
saya dulu, perjuangan menikmati hujan kala itu begitu menggelitik. Banyak alibi
yang terlontar ke ibuk ketika saya ingin menikmati hujan. Rindu akan hujan yang
seperti itu, bermain air hujan sepuasmu di jalanan, menerabas tirai percikan
air yang berjatuhan, Ah saya rindu.
Hujaaaan, bolehkah aku memegang percikan airmu? Lagi-lagi
kenapa ia selalu bisa lolos dari genggaman saya?
Hujan, dimana ketika itu saya mulai merindu lagi dengan masa-masa
kecil saya J.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar